Everything is here and only for you

Monday, 25 January 2010

Kisah Qorun

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta
mereka dengan memberikan surga untuk mereka. (Qs. At Taubah :9 :111).      Orang mukmin mendapatkan garansi atau jaminan dari Allah untuk masuk surga, hal ini dikarenakan harta yang diperolehnya membuat diriny
a lebih dekat dengan Allah dan siap berkorban diri dan hartanya untuk kepentingan Allah.  Dijaman Nabi Musa as. Ada seorang konglemerat yang bernama “Qorun” yang hidupnya bergelimpangan dengan harta akan tetapi dengan hartanya semakin jauh dengan Allah. Kalau ditinjau dari kisah “Qorun” sangatlah bertolak belakang konsep yang dimiliki orang mukmin. Mengapa?? Ada beberapa alasan dalam kisah Qorun diantaranya :


Pertama,Visi yang dicapainya terfocus hanya kepada harta dan asset, Misinya bagaimana mengoptimalisasi penumpukan atau perolehan harta tidak melihat halal dan haram sedangkan objectivenya hanya memperkaya diri, golongan/kelompok/Negara tertentu. (boleh jadi terlahir kezoliman). Dampak yang ditimbulkan tidak tercipta kesejahteraan yang merata serta melahirkan kesenjangan. Hal ini dapat dibuktikan 5,000 tahun yang lalu dalam kisah “Qorun” dalam Al qur’an : dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Qs Al Qashash :28:76).
     Hal ini telah tercermin dalam system perekonomian Kapitalis yang dipimpin oleh Negara adikuasa Amerika Serikat dan secara keseluruhan ekonomi global saat ini termasuk Negara Indonesia tidak terlepas dari system kapitalis sehingga hal ini merupakan penjelmaan dari “Qorunisme”. Dampak lain yang sangat fundamental adalah sifat hidup konsumtif bangsa Indonesia saat ini merupakan media terbaik tumbuhnya “Qorunisme” sehingga ada seorang yang penghasilannya kopral tapi pengeluarannya kolonel atau jendral. Coba kita melihat bagaimana program media elektronik dengan Indonesian Idol (produk Amerika), yang menggunakan system “SMS” memelih penggemarnya…siapa yang diuntungkan tentunya Operator telepon (berapa milyar?) yang pasti dirugikan umat islam berjam-jam menonton TV menghambur-hamburkan waktu yang tidak berguna (tidak belajar dan berbuat untuk agama dsb).

Kedua, Mengandalkan kekuatan logika dan Ilmu (Sain dan Teknologi), Bagaimana barat dalam hal ini Amerika serikat dan sekutunya sampai abad ke duapuluh satu ini selama kurang lebih 200 tahun menguasai dunia, mereka menjual produk-produk kapitalis dari seluruh sendi-sendi kehidupan (idiologi, politik, social, budaya, ekonomi, pertahanan dan keamanan), Padahal Islam menguasai dunia 700 tahun (abad ke satu sampai abad ketujuh) disinilah tantangan bagi seluruh umat islam harus menjadi yang terbaik bagi tiap-tiap individu muslim (yang pasti disalahkan orang muslim itu sendiri).
     Dengan hanya mengandalkan kekuatan Ilmu dan logika berarti mengabaikan kekuatan ajaran agama, disinilah akan melahirkan pemisahan yang disebut dengan “Sekuler”, artinya jika dalam mencari harta mengabaikan kehalalan dan keharaman serta kezoliman dan kemaksiatan (melanggar perintah dan larangan Allah Contoh banyak orang dengan kesibukannya dengan dunia mengakhirkan Sholat apalagi tidak solat). Sekulerisme akan melahirkan produk yang tidak jujur, tidak adil, dan tidak transfarant.
Kejadian tersebut diatas juga telah diabadikan 5,000 tahun yang lalu dalam Al Qur’an dalam kisah “Qorun” yaitu :
  Karun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku. (Qs. Al Qashash :28 : 78)

Demikianlah kesombongan “Qorun”, hal ini boleh jadi terdapat pada diri kita seandainya apa yang diperoleh selama ini dengan Hartanya, kepopularitasnnya , jabatannya dan kepintarannya dan kesuksesannya merasa diperoleh karena kehebatan dirinya memperoleh assesoris dunia tersebut (perlunya muhasabah/Introspeksi diri).
Sebagai indikator sangatlah sederhana dan mudah tapi sangat sulit diimplementasikan yaitu seberapa besar dengan assesoris dunia yang didapat dengan ketaatan atas seluruh perintah dan larangan Allah. Jika Assesoris dunia semakin jauh dari ketaatan dengan Allah maka Allah akan menghancurkan seperti umat-umat yang telah lalu hal ini difirmankan Allah :" Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. (Qs. AL Qashash :28:78). Hal ini boleh jadi kita melihat kegonjangan system ekonomi kapitalis Amerika Serikat yang memicu krisis global….Allah tidak menyalahi janjinya….tinggal sekarang yang menjadi pertanyaan sudah siapkan kita kaum muslimin menggantinya????

Ketiga,  Jika “Qorunisme” telah melahirkan Kapitalisme dan Sekulerisme maka secara otomatis tanpa ada perintah melahirkan produk yang namanya “Tashabuh” atau mengikuti atau ingin diikuti oleh yang lainnya (bisa orang, kelompok, golongan maupun Negara). Sebagai contoh berlomba-lomba dengan kemegahan banyaknya harta dan keturunan (Yang diikuti semuanya Idiologi, politik,social, budaya, ekonomi, pertahanan, dan keamanan). Pertanyaan dalam hal ini siapakah yang terpukau dan yang ingin mengikutinya tentunya orang yang cinta dunia dan takut mati (Ubudunia). Hal ini difirmankan Allah dalam Al Qur’an :Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya[1139]. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: "Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar."  [1139]. Menurut mufassir: Karun ke luar dalam satu iring-iringan yang lengkap dengan pengawal, hamba sahaya dan inang pengasuh untuk memperlihatkan kemegahannya kepada kaumnya. (Qs. AL Qashash :28: 79).

  Fenomena dimasyarakat telah menjadi “Trade Mark” bahwa keberhasilan dan kesuksesan memperoleh seluruh atau sebagian assesoris dunia dikarenakan ketiga factor tersebut diatas yaitu, penumpukan Harta, Ilmu memperoleh harta dan mengikuti kesuksesan orang. Tentunya “kisah Qorun” menjadi pelajaran buat kaum muslimin yang menginginkan surga, tentunya harus berfikir, berbicara dan berbuat dengan harta, illmu dan kaum muslimin harus sebagai pelopor keberhasilan didunia dan diakherat. Sehingga kejayaan kaum muslimin akan kita raih kembali dengan merapatkan barisan, meluruskan niat, dan berbuat sesuatu sesuai dengan kemampuannya msing-masing.


Oleh : H. Bambang Wijonarso
sumber

No comments:

About Us

Recent

Random